Tampilkan postingan dengan label Kandungan Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kandungan Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

Kandungan Surah Al-baqarah ayat 47 sampai 48


Artinya: “Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat,[47]. Dan jagalah dirimu dari (‘azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”[48]. (Q,.s.al-Baqarah/02: 47-48)

Tafsir Ayat

Makna Ayat Secara Global

Allah Ta’ala memanggil Bani Isrâil seraya menuntut mereka untuk mengingat nikmat-nikmat-Nya agar mereka dapat mensyukurinya dalam bentuk beriman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan menerima dien yang haq yang dibawanya, yaitu al-Islam.

Dia Ta’ala juga mengingatkan mereka akan azab di Hari Kiamat dengan memerintahkan mereka agar membentengi diri dengan keimanan dan amal-amal yang shalih sebab ia merupakan Hari yang agung dimana pada hari itu, syafa’at orang kafir tidak akan diterima, tidak akan diambil tebusan darinya serta tidak akan ada seorangpun yang dapat menolongnya untuk menolak azab tersebut.

Makna Per-Penggalan

Ayat 47
Firman-Nya (artinya): [ Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku…] : penjelasan tentang nikmat-nikmat tersebut telah dijelaskan sebelumnya ( di dalam ayat 40), yakni bila kalian mengingat nikmat-nikmat tersebut maka lakukanlah sebagaimana haknya (hal yang sepatutnya) dan berimanlah kepada orang yang telah Aku utus sebagai Rasul. [Zub]

[ yang telah Aku anugerahkan kepadamu…]
{ dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat ( al-‘Âlamîn) } ; ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata al-‘Âlamîn adalah “para ulama zaman mereka”. Ada lagi yang mengatakan: “seluruh umat yang para Nabi diutus kepada mereka”. Hal ini terealisasi manakala mereka beriman kepada para Rasul yang diutus oleh Allah Ta’ala. Namun begitu, mereka tetap tidak akan lebih utama dari Umat Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena Allah Ta’ala sendiri yang berfirman: ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia’ . [Zub]

Ayat 48
Firman-Nya (artinya) :[ Dan jagalah dirimu dari hari … ] : kata “yauman (hari) “ artinya hari Kiamat. Maksudnya adalah azab di hari tersebut. [Zub]

{ (yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun… } : yakni tidak dapat mewakilinya di dalam menunaikan haknya. [Zub]

( dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at…) : bilamana dia meminta syafa’at di sisi Allah Ta’ala untuk seseorang. [Zub]

( dan tebusan daripadanya…) : yakni tebusan berupa harta/uang, keluarga atapun anak. [Zub]

( dan tidaklah mereka akan ditolong) : yakni tidak seorangpun yang mampu untuk menolong dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk kedua ayat tersebut adalah:

  • Kewajiban mengingat semua nikmat agar dapat disyukuri * dengan memuji kepada Allah dan mena’ati-Nya.
  • Kewajiban membentengi diri dari azab hari Kiamat dengan keimanan dan amal shalih setelah meninggalkan kesyirikan dan semua maksiat.
  • Pengukuhan bahwa syafa’at tidak berlaku bagi jiwa yang kafir dan tebusan tidak akan diterima ** selama-lamanya pada hari Kiamat. [Ays]

CATATAN KAKI :

* Syaikh Abu Bakar al-Jaza-iriy berkata: “mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dapat diimplementasikan melalui pengakuan terhadap nikmat, memuji Allah Ta’ala atas hal itu serta mengalihkannya kepada hal-hal yang diridlai-Nya”. [Ays]

** Syaikh Abu Bakar al-Jaza-iriy berkata: “ ini berdasarkan firman-Nya (artinya): ‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak itu). Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong’ “. (Q,.s. Âli-‘Imrân/03: 91) – [Ays]

(Diambil dari Kitab Aysar at-Tafaasiir li Kalaam ‘al-Aliy al-Kabiir [disingkat: Ays] karya Syaikh Abu Bakar al-Jazâiriy dan Kitab Zubdatut Tafsir min Fath al-Qadîr [disingkat: Zub] karya DR. Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar)

 

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 40 sampai 46

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُمْ وَ إِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
(40) Wahai Bani Israil : Ingatlah nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepada kamu dan penuhilah janjimu, agar Aku penuhi (pula) janjiKu, dan sernata-mata kepadaku sajalah kamu takut.
وَ آمِنُوْا بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُوْنُوْا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُوْا بِآيَاتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُوْ
(41) Dan percayalah kepada apa yang Aku turunkan, yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu, dan janganlah kamu jadi orang yang mula sekali mengkufurinya. Dan jangan­lah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit; dan semata-mata kepadaKu saja­lah kamu bertakwa.
وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْن
(42) Dan janganlah kamu campur­adukkan yang benar dengan yang batil dan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.
وَ أَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْن
(43) Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.
أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ أَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْن
(44) Apakah kamu suruh manusia berbuat kebajikan, akan kamu lupakan dirimu (sendiri) pada hal kamu membaca kitab; apakah tidak kamu pikirkan ?
وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْن
(45) Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sembahyang. Dan sesungguhnya hal itu memang amat berat, kec°uali. atas orang-orang yang khusyu.
اَلَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُّلاَقُوْ رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْن
َ(46) (yaitu) orang-orang yang sungguh percaya, bahwasanya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasa­nya mereka akan kembali kepadaNya.
Dakwah Kepada Bani Israil
Sebagai telah kita maklumi pada keterangan-keterangan di atas selain dari persukuan Arab Bani Aus dan Bani Khazraj, maka ada pula penduduk Madinah dari pemeluk agama Yahudi. Mereka bukanlah bangsa Arab keturunan Qahthan atau Adrian.

Tetapi mereka adalah keturunan dari Nabi Ya'qub a.s , Ya'qub putra dari Ishak a. s. dan Ishak putra dari Ibrahim a.s., semuanya adalah Rasul Allah.
Beliau beranak laki-laki 12 orang , di antaranya Nabi Yusuf a.s. Maka berkembang-biaklah anak keturunan Nabi Ya'qub a. s. yang 12 orang ini. Gelar kehormatan yang diberikan Tuhan kepada Nabi Ya'qub a. s. ialah Israil. Ll di ujung itu ialah bahasa Ibrani yang artinya Allah. Israil kononnya berarti Amir pejuang bersama Allah.

Bani Israil menerima Taurat dari Musa a. s.. Lama-lama timbullah pada mereka kesan bahwasa nya agama yang mereka pusakai dari nenek-moyang mereka itu yang dirumuskan dalam Taurat Nabi Musa a.s. dan Nabi-nabi yang lain sesudah Musa a.s., adalah khusus buat mereka belaka. Di antara 12 suku Bani Israil itu, yang terbesar adalah keturunan suku anak yang kedua, yaitu Yahuda. Lama kelamaan menjadi kebiasaanlah mereka menyebut diri Yahudi dan agama mereka agama Yahudi, yang dibangsakan kepada Yahuda itu. Padahal yang lebih tepat, supaya semuanya tercakup ialah kalau disebutkan Bani Israil.

Maka selain dari dakwah untuk orang Arab, Qahthan dan Adnan, Nabi Muhammad s.a.w diperintahkan Tuhan menyampaikan dakwah kepada Bani Israil , persukuan mereka yang besar di Madinah ketika itu adalah Bani Nadhir, Bani Qainuqa, Bani Quraizhah dan lain-lain persukuan yang kecil-kecil.

Dengan pindahnya Nabi Muhammad s.a.w ke Madinah, rapatlah pergaulan dengan mereka. Apatah lagi ketika itu kegiatan perdagangan ada di tangan mereka. Mereka selalu bertemu di pasar. Dan telah dibuat perjanjian akan hidup berdampingan secara damai.

Maka diperintahkan kepada Rasulullah supaya menyampaikan dakwah pula kepada mereka.

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُمْ وَ إِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepada kamu dan penuhilah janjimu agar Aku penuhi (pula) janjiKu, dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu takut. " (ayat 40).

Dihadapkanlah seruan kepada mereka, karena patutlah mereka yangterlebih dahulu menerima kebenaran yang dibawa Muhammad s.a.w mengingat nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Di antara bangsa-bangsa yang sejaman dengan mereka dahulunya, kepada merekalah dikhususkan Tuhan nikmat wahyu.

Sampai mereka dilepaskan dari perbudakan Fir'aun dan diberi tanah istimewa pusaka nenek-moyang mereka Ibrahim a. s. dan Ishak a.s., dan berpuluh-puluh banyaknya Nabi dan Rasul dibangkitkan dalam kalangan mereka.

Patutlah mereka mengingat nikmat itu dan dari sebab itu patut pulalah mereka yang dahulu sekali menyatakan percaya pada Muhammad s.a.w. Di samping itu disuruh mereka mengingat kembali janji khusus mereka dengan Allah. Meskipun kitab Taurat sudah tidak ada aslinya lagi, namun janji itu masih bertemu, yaitu bahwa mereka tidak akan mempersekutukan yang lain dengan Allah. Dan supaya beriman kepada Rasul-rasul Allah yang datang menegakkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa itu.

Dan dijanjikan pula kelak kemudian hari akan diutus pula searang Rasul dari antara saudara mereka, yaitu Bani Ismail. Itulah Nabi Muhammad s.a.w sekarang Nabi itu telah datang mernbawa ajaran persis ajaran yang telah mereka janjikan dengan Allah itu pula, yaitu Tauhid mengesakan Tuhan. Patutlah mereka ingat janji itu kembali.

Dan Tuhanpun telah berjanji pula dengan mereka, akan memberi mereka kemuliaan di antara manusia dan bangsa-bangsa. Asal mereka tetap setia akan janji itu, Tuhanpun akan memenuhi janjiNya pula. Dan kata Tuhan selanjutnya, kepadaKu sajalah takut! Jangan takut kepada yang lain. Jangan segan menyatakan iman kepada Muhammad karena ancaman dari ketua-ketua mereka, rabbi-rabbi dan ahbar (pendeta-pendeta) mereka. Dan jangan segan menyatakan iman, karena takut akan kalah pengaruh.

Kemudian dijelaskan lagi oleh Tuhan:

وَ آمِنُوْا بِمَا أَنزَلْتُ
"Dan percayalah kamu kepada apa yang Aku turunkan. " (pangkal ayat 41)
Yaitu al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ
"Yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu. "yaitu kitab Taurat.
Tika kamu tilik kembali isi Taurat, yang memerintahkan kamu percaya kepada Allah Ta'ala atau Allah Yang Esa, jangan membuat berhala untukNya dan hendaklah hormat kepada ibu bapakmu, jangan berzina, jangan mencuri, jangan naik saksi dusta, niscaya kamu akan mengakui kebenaran al-Qur'an yang memang itu pulalah pokok ajaran yang dibawanya.

وَلاَ تَكُوْنُوْا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ
"Dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang mula­mula mengkufurkannya. "

Karena kalau kamu kufuri, kamu tolak dan kamu tentangkan al-Qur'an itu, berarti kamu menentang kitab yang ada dalam tanganmu sendiri :

وَلاَ تَشْتَرُوْا بِآيَاتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً
"Dan janganlah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. "

Artinya, karena mcngharapkan kemegahan, lalu kamu dustakan kebenaran ayat Allah. Berapapun pangkat yang kamu dapat lantaran mendustakan kebenaran, namun itu masihlah harga yang sedikit jika dibandingkan dengan kerugian rohani yang kamu dapat.

وَإِيَّايَ فَاتَّقُوْ
"Dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu bertakwa. " (ujung ayat 41)

artinya semata-mata perhubungan dengan Allahlah yang patut kamu pelihara clan perbesarlah perasaan tanggungjawabmu dengan Tuhan. Karena kesegananmu menerima kebenaran, lain tidak hanyalah karena kamu hendak memelihara perhubungan dengan kepala-kepala dan ketua-ketua kamu, padahal kepala-kepala dan ketua­ketua itu tidak akan dapat melepaskan kamu daripada bahaya yang akan ditimpakan Allah kepada kamu.

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْن
"Dan janganlah kamu campur-adukkan yang benar dengan batil dan kamu sembuyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui. " (ayat 42).

Rasul akan datang dari kalangan saudara sepupu mereka Bani Ismail. Tanda-tandanya sudah jelas dan sekarang tanda itu sudah bertemu. Tetapi pemuka-pemuka agama mereka melarang pengikut mereka percaya kepada Rasul s.a.w karena kata mereka dalam Kitab-kitab Nabi-nabi mereka itu tersebut juga bahwa akan ada Nabi-nabi palsu.

Lalu mereka katakan kepada pengikut-pengikut itu bahwa ini adalah Nabi palsu. Bukan Nabi yang dijanjikan itu. kalau pengikut mereka datang bertanya, mereka sembuyikan kebenaran, dan kitab mereka sendiri mereka tafsirkan lain dari maksudnya semula, padahal mereka telah mengetahui bahwa memang Muhammad s.a.w itulah Nabi dari Bani Ismail yang ditunggu-tunggu itu. Untuk mempertahankan kedudukan, mereka telah sengaja mencampur-adukkan yang benar dengan yang salah, dan menyembunyikan yang sebenarnya.

Ayat 41 untuk peringatan bagi orang-orang awam mereka dan ayat 42 untuk peringatan bagi pemuka-pemuka agama mereka.

وَ أَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْن
"Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat, dan rukulah bersama-sama orang-orang yang ruku. " (ayat 43)
Setelah diperingatkan kepada mereka kesalahan-kesalahan dan kecurangan mereka yang telah lalu itu, sekarang mereka diajak membersihkan jiwa dan mengadakan ibadat tertentu kepada Allah, dengan mengerjakan sembahyang, dan mengeluarkan zakat. Dengan sembahyang, hati terhadap Allah menjadi bersih dan khusyu dan dengan mengeluarkan zakat, penyakit bakhil menjadi hilang dan timbul hubungan batin yang baik dengan masyarakat, terutama orang­ orang fakir-miskin, yang selama ini hanya mereka peras tenaganya, dan mana yang terdesak mereka pinjami uang dengan memungut riba.

Apabila Tuhan Allah telah memerintahkan supaya iman kepada keesaan Allah itu lebih di dalamkan dengan mengerjakan sembahyang, kemudian dengan mengeluarkan zakat, maka akan tumbuhlah iman itu dengan suburnya. Karena ada juga orang yang telah mengaku beriman kepada Allah tetapi dia malas sembahyang. Berbahayalah bagi iman itu, karena kian lama dia akan runtuh kembali. Dan hendaklah dididik diri bermurah hati dengan mengeluarkan zakat; karena bakhil adalah musuh yang terbesar dari iman. Apabila berperangai bakhil, nyatalah orang itu tidak beriman !

Kemudian mengapa disuruh lagi ruku' bersama dengan orang yang ruku' ? Tidakkah cukup dengan perintah sembahyang saja ? Apakah ini bukan kata berulang ?

Bukan ! Ada juga orang yang berfaham bahwa asal aku sudah sembahyang sendiri di rumahku, tidak perlu lagi aku campur dengan orang lain. Itulah yang salah ! Sembahyang sendiripun belum sempurna, tetapi rukulah bersama-sama dengan orang yang ruku', bawalah diri ke tengah masyarakat. Pergilah berjama'ah !.

Maksud yang kedua, arti ruku ialah khusyu'. Jangan hanya sembahyang asal sembahyang, sernbahyang mencukupi kebiasaan sehari-hari saja, tidak dijiwai oleh rasa khusyu' dan ketundukan.
Inilah yang diserukan kepada Bani Israil yakni agar mereka teruskan saja agama yang diajarkan Musa a.s. kepada lanjutannya, yaitu yang diteruskan oleh Muhamrnad s.a.w agar mereka menjadi Muslim, menyerah diri kepada Tuhan, dan hiduplah sebagai Muslim yang sejati.
Kemudian itu Allah meneruskan lagi sabdaNya kepada Bani Israil dengan mengingatkan
kesalahan selama ini :

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ أَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْن
"Apakah kamu suruh manusia berbuat kebajikan dan kamu lupakan dirimu (sendiri), padahal kamu membaca kitab, apakah kamu tidak pikirkan?" (ayat 44).

Teguran keras ini adalah kepada pemuka-pemuka dan pendeta­pendeta mereka. Bukan main keras larangan mereka : "Ini haram !" Bukan main keras perintah mereka : "Ini wajib", seakan-akan merekalah yang empunya agama itu, padahal diri mereka sendiri mereka lupakan. Hanya mulut mereka yang keras mempertahankan agama untuk dipakai oleh orang lain, adapun untuk diri mereka sendiri, tidak usahlah dipersoalkan; padahal mereka membaca kitab, hafal nomor ayatnya, ingat pasalnya, bahkan salah titik dan salah baris sedikit saja, mereka tahu. Tetapi apa isi dan intisari dari kitab itu, apa maksudnya yang sejati, tidaklah mereka mau mengetahui dan tidak mereka pikirkan.

Inilah penyakit pemuka-pemuka atau yang disebut pendeta atau ahbar mereka pada waktu itu. Dengan keras mengoyak mulut mempertahankan apa yang rnereka katakan agama, padahal sudah tinggal hanya mempertahankan kata (textbook), tetapi tidak ada paham mereka sama sekali akan maksud. Paham menjadi sempit dan fanatik, takut akan perubahan, dan gentar mendengar pendapat baru. Maka datanglah teguran : Apakah tidak kamu pikirkan ? Atau lebih tegas lagi; Apakah kamu tidak tidak mempergunakan akalmu ?
Dengan ini Tuhan telah memberikan terguran bahwa iman yang sebenarnya, melainkan iman yang tumbuh dari hati sanubari. Sebab itu jika ayat ini tertentu kepada pemuka Yahudi pada mulanya, namun dia telah direkam dalam al-Qur'an untuk ingatan kita. Jangan sampai kita membacanya, lalu Yahudi yang terbayang di hadapan kita, tidak diingat bahwa Islam sendiripun akan runtuh dari dalam, kalau iman sudah hanya jadi hafalan mulut, tidak rumpunan jiwa.

وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ
"Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sembahyang. " (pangkal ayat 45).

Dipesankan dalam rangka nasehat kepada pemuka-pemuka Yahudi, sebagai merangkul mereka ke dalam suasana Islam, supaya meminta tolong kepada Tuhan, pextama dengan sabar, tabah, tahan hati dan teguh, sehingga tidak berkucak bila datang gelombang kesulitan.
Maka adalah sabar sebagai benteng. Dengan sembahyang, supaya jiwa itu selalu dekat dan lekat kepada Tuhan. Orang yang berpadu di antara sabarnya dengan sembahyangnya, akan jernihlah hatinya dan besar jiwanya dan tidak dia akan rintangan dengan perkara-perkara kecil dan tetek-bengek.

Percobaan yang harus kita tempuh dalam menyeberangi kehidupan ini kadang-kadang sangatlah besarnya. Sehingga jiwa harus kuat dan pendirian harus kokoh. Sebab itu untuk memintakan agar selalu mendapat pertolongan dari Tuhan, agar kita dikuatkan menghadapi kesulitan itu, tidaklah botch terpisah di antara keduanya ini. Sabar dan Shalat yaitu membuat hati jadi tabah dan selalu mengerjakan sembahyang.

Ingatlah betapapun menyabarkan hati., kadang-kadang karena beratnya yang dihadapi, jiwa bisa bergoncang juga. Maka dengan sembahyang khusyu sekurang-kurangnya 5 waktu sehari semalam, hati yang tadinya nyaris lemah niscaya akan kuat kembali.

Maka sabar dan sembahyang itulah alat pengokohkan pribadi bagi orang Islam. Sebab selalu terjadi di dalam kehidupan, suatu marabahaya yang kita hadapi sangatlah sakitnya, kadang-kadang tidak tertanggung, padahal kemudian, setelah marabahaya itu lepas, barulah kita ketahui bahwa bahaya-bahaya yang kita lalui itu adalah mengakibatkan suatu nikmat yang amat besar bagi diri kita sendiri. Yang saya katakan ini adalah pengalaman berkali-kali, baik bagi diri saya ataupun diri tuan.
Dalam cerita Nabi Ibrahim a.s. (kelak pada ayat 124 Surat al-Baqarah ini) kita akan bertemu kenyataan itu. Beliau diuji dengan berbagai ujian , dan setelah dengan segala kesabaran ditempuhnya ujian itu dan diseberanginya, diapun diangkat menjadi IMAM. Kehidupan Nabi­-nabi adalah contoh teladan yang harus diambil orang yang beriman.

Tetapi ayat selanjutnya mengatakan:

وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ
"Dan sesungguhnya hal itu memang berat. "

Yang dimaksud ialah sembahyang; bahwa mengerjakan sembahyang itu amat berat. Orang disuruh sabar, padahal hatinya sedang susah. Lalu dia disuruh sembahyang; maka dengan kesalnya dia menjawab: "Hati saya sedangsusah, saya tidak bisa serrrbahyang. "Mengapa dia merasa berat sembahyang ? Sebab jiwanya masih gelap, sukarlah menerima nasehat supaya sabar dan sembahyang. Kalau nasehat yang benar itu ditolaknya, tidaklah dia akan terlepas dari kesukaran yang tengah dihadapinya. Lalu datang penutup ayat :

إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْن
"Kecuali bagi rnang-orang yang khusyu'. " (ujung ayat 45)

Khusyu artinya tunduk, rendah hati dan insaf bahwa kita ini adalah hamba Allah. Dan Allah itu cinta kasih kepada kita. NikmatNya lebih banyak daripada cobaanNya. Saat kita menerima nikmat lebih banyak daripada saat menerima susah. Lantaran yang demikian itu, jika diajak supaya sabar dan sembahyang, orang yang khusyu itu tidak bertingkah lagi. Sebab dia insaf bahwa memang keselamatan jiwanya amat bergantung kepada betas kasihan Tuhannya. Jika datang percobaan Tuhan, bukanlah dia menjauhi Tuhan, tetapi bertambah mendekatiNya.
Dan siapakah orang yang bisa menjadi khusyu ?

اَلَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُّلاَقُوْ رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
"Yaitu orang-orang yangsungguh percaya, bahwasarrya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasanya kepadaNya mereka akan kembali. " (ayat 46).

Untuk menambahkan khusyu hendaknya kita ingat, sampai menjadi keyakinan, bahwasanya kita ini datang ke dunia atas kehendak Tuhan dan akan kembali ke akhirat dan akan bertemu dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan akan kita pertanggung jawabkan semua amal dan usaha kita selama di dunia. Maka dari sekarang hendaklah kita latih diri mendekati Tuhan. Ibaratnya ialah sebagai apa yang disebut di jaman sekarang dengan kalimat relasi (relation). Datang tiba-tiba saja kita berhadapan dengan Tuhan, padahal makrifat terlebih dahulu tidak ada, dan hubungan kontak jarang sekali, tentu akan membuat bingung, karena tidak ada persiapan. Sampailah Imam Ghazali mengatakan bahwa jika kamu berdiri sembahyang hendaklah sebelum kamu takbir kamu ingat seakan-akan itulah sembahyangmu yang terakhir. Mungkin nanti engkau akan mati, sebab itu engkau khusyukan hatimu menghadap Tuhan.

Inilah beberapa seruan kepada Bani Israil, untuk mengembalikan mereka kepada pangkalan agama yang sejati. Sebab inti agama yang mereka peluk selama ini itulah dia inti Islam dan marilah menjadi Islam. Kamulah yang lebih patut mula-mula menyambutnya.

Dalam ayat ini bertemu kalimat yazhunnuuna, yang kita artikan "Mereka yang sungguh percaya". Pokok ambilan kalimat ialah zhann yang menurut arti asalnya ialah berat pikiran kepada satu jurusan dan belum yakin benar. Hasil ijtihad di dalam seorang mujtahid menetapkan suatu hukum tidaklah ada yang yakin, melainkan zhann saja.

Kalau yazhunnuuna
[ يَظُنُّوْنَ ] dalam ayat ini kita artikan: "Orang-orang yang telah berat sangkanya bahwa dia akan berjumpa dengan Tuhannya, "niscaya tidaklah kena maksud iman. Sebab seorang mukmin wajiblah yakin bahwa hari akan kiamat dan dia akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Tuhan. Di dalam ayat 4 daripada Surat 2, al­Baqarah dijelaskan sifat-sifat orang yang takwa, yaitu orang yang yakin akan hari akhirat.

Oleh sebab itu maka kebanyakan Ulama Tafsir memberi arti Yazhunnuuna, dengan "mereka yang sungguh-sungguh percaya. "Bukan menurut artinya yang asal, yaitu "orang-orang yang berat sangkanya".

Ibnu Jarir menegaskan dalam Tafsirnya: "Orang Arab kadang­kadang menamai yakin itu dengan zhann, sebagaimana juga mereka pernah menamai gelap dengan sadafah dan terang dinamainya sadafah. Orang yang menyeru meminta tolong mereka namai shaarikh , dan orang tempat memohonkan pertolongan itu kadang-kadang mereka namai shaarikh juga. Dan ada lagi beberapa perumpamaan pemakaian nama-nama yang lain, yaitu menamai sesuatu keadaan dengan lawannya."Sekian kata Ibnu Jarir.

Memang terdapat dua tiga kali di dalam al-Qur'an, kata zhann artinya yakin. Di antaranya terdapat dalam Surat 69, al-Haqqah ayat 20. Dan pernah juga terdapat dua ayat berdampingan, keduanya memakai kalimat zhann, ayat yang pertama berarti berat sangka saja. Dan ayat yang kedua berarti saya yakin. Yaitu jelas tertulis di dalam Surat 17, al-Isra' ayat 101 dan 102, menerangkan dialog bertukar-kata di antara Fir'aun dengan Nabi Musa a. s., di ayat 101 Fir'aun menyatakan perasaanya bahwa dia menyangka Nabi Musa a.s. seorang tukang sihir. Sedang di ayat 102 Musa. a.s. membalas, menyatakan bahwa dia yakin bahwa Fir'aunlah yang akan kena bencana kemurkaan Tuhan.
 

Minggu, 29 Juli 2012

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 30 sampai 39

AYAT 30 HINGGA 33:

2-30: Dan (ingatlah) ketika Rab (Tuhan) engkau berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku (Allah) hendak menjadikan seorang khalifah (wakil) di bumi.” Mereka (malaikat-malaikat) bertanya: “Adakah Engkau (Allah) hendak menjadikan padanya (di bumi) orang yang akan melakukan kerosakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji-Mu (memuji Allah) dan mensucikan-Mu (mensucikan Allah)?” Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa yang kamu tidak mengetahuinya.”
Allah telah menciptakan bumi dan melengkapkannya dengan segala keperluan bagi kehidupan makhluk di bumi. Bumi yang sudah dilengkungi oleh langit-langit sudah sangat teguh, mampu dan sesuai untuk didiami oleh makhluk yang lebih berbakat daripada makhluk yang lain untuk menguruskan kehidupan di bumi itu. Oleh itu Allah berkehendak menciptakan makhluk yang akan menjadi khalifah di bumi untuk diserahkan tugas mentadbir bumi itu. ‘Dan (ingatlah) ketika Rab (Tuhan) engkau berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku (Allah) hendak menjadikan seorang khalifah (wakil) di bumi.’ Allah mengistiharkan kehendak-Nya itu kepada para malaikat. Peristiharan itu menunjukkan segala ciptaan Allah telah lengkap hanya menantikan kedatangan khalifah atau wakil Allah yang akan diberi mandat menguruskan bumi. ‘Mereka (malaikat-malaikat) bertanya: Adakah Engkau (Allah) hendak menjadikan padanya (di bumi) orang yang akan melakukan kerosakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji-Mu (memuji Allah) dan mensucikan-Mu (mensucikan Allah)?’ Allah membekalkan kepada malaikat dengan sebahagian daripada ilmu-Nya. Menurut ilmu yang ada pada para malaikat, makhluk yang akan diciptakan dan menghuni bumi itu akan mempunyai persediaan yang sesuai dengan iklim bumi dan kesan daripada pengaruh dan tarikan yang ada di bumi akan menjadikan makhluk itu melakukan kerosakan di bumi bahkan mereka juga akan berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Menurut ilmu para malaikat, makhluk yang akan diciptakan itu tidak akan sanggup bertasbih dengan memuji dan memuliakan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh malaikat. Ketika malaikat berkata demikian tidak ada satu makhluk pun yang derhaka kepada Allah atau melanggar peraturan Allah. Malaikat yang sifatnya sentiasa mengagungkan Allah dan memuliakan-Nya mahu memelihara keharmonian demikian.
‘Dia (Allah) berfirman: Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa yang kamu tidak mengetahuinya.’ Sekalipun malaikat mengeluarkan pengetahuan mereka yang menunjukkan sebagai bantahan terhadap ciptaan baharu itu namun, Allah tetap dengan kehendak-Nya. Jika kehendak malaikat yang berlaku tentu sekali makhluk bangsa manusia ini tidak akan diciptakan Allah, tetapi Allah tetap melaksanakan kehendak-Nya menciptakan khalifah-Nya, memberi peluang kepada manusia untuk wujud dan hidup. Jika manusia mengenangkan peristiwa ini sahaja pun sudah cukup buat mereka bersyukur kepada Allah dan mentaati-Nya.

2-31: Dan Dia (Allah) telah mengajarkan (memberikan maklumat) kepada Adam nama-nama (pengenalan yang lengkap) sekaliannya; kemudian Dia (Allah) mengemukakan kepada malaikat, lalu Dia (Allah) berfirman: “Terangkan kepada-Ku (kepada Allah) nama-nama itu semuanya, jika kamu golongan yang benar.”
Sunnatu’llah, ketetapan Allah sejak mula, Dia tidak menciptakan sesuatu kemudian membiarkannya begitu sahaja. Allah tidak menciptakan makhluk dan meninggalkannya meraba-raba mencari apa yang perlu mereka lakukan. Bila Allah menciptakan sesuatu Allah meletakkan ketentuan padanya, termasuklah ilmu untuk berfungsi sesuai dengan bentuk kejadiannya. Makhluk yang Allah ciptakan menjadi makhluk yang mengetahui. Matahari, bulan dan bumi mengetahui jalan masing-masing, tidak perlu berguru dengan sesiapa kerana Maha Guru telah memimpin mereka. Sunnatu’llah juga berlaku kepada Adam: ‘Dan Dia (Allah) telah mengajarkan (memberikan maklumat) kepada Adam nama-nama (pengenalan yang lengkap) sekaliannya.’ Allah ajarkan kepada Adam nama-nama semuanya. Apa pentingnya mengetahui nama? Apa guna mengetahui nama satu haiwan itu unta tetapi tidak mengetahui unta itu boleh di makan? Diajarkan nama-nama itu bermaksud diberi pengenalan. Kita diajarkan nama-nama Allah seperti al-Rahman, al-Rahim, al-Ahad, al-Somad dan lain-lain. Nama-nama itulah yang memperkenalkan kita kepada yang dinamakan. Adam juga mempunyai pengenalan terhadap nama-nama yang diajarkan kepadanya. Adam mengenali dan tahu fungsi serta kegunaan yang dinamakan itu. Di antara nama-nama yang diajarkan kepada Adam itu tentu sekali yang paling utamanya nama-nama Allah yang baik-baik kerana tentu sekali Allah menciptakan Adam untuk mengenali-Nya terlebih dahulu baharu mengenali makhluk yang Dia ciptakan.
Kemudian diuji pengenalan (makrifat) malaikat terhadap Allah dan juga makhluk Allah: ‘Kemudian Dia (Allah) mengemukakan kepada malaikat, lalu Dia (Allah) berfirman: Terangkan kepada-Ku (kepada Allah) nama-nama itu semuanya, jika kamu golongan yang benar.’

2-32: Mereka (malaikat-malaikat) menjawab: “Subhanaka (Maha Suci Engkau/Allah)! Tidak ada pengetahuan kami, kecuali yang Engkau (Allah) ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau (Allah), Engkau (Allah)lah al-’Alim (Yang Maha Mengetahui), al-Hakim (Maha Bijaksana).”
Malaikat bermakrifat menurut kejadiannya, berpengetahuan pada apa yang ada dalam sekop tugasnya tetapi tidak bermakrifat terhadap yang di luarnya. ‘Mereka (malaikat-malaikat) menjawab: Subhanaka (Maha Suci Engkau/Allah)! Tidak ada pengetahuan kami, kecuali yang Engkau (Allah) ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau (Allah), Engkau (Allah)lah al-’Alim (Yang Maha Mengetahui), al-Hakim (Maha Bijaksana).’ Malaikat yang suci mengakui kelemahan mereka, tidak berdolak-dalih. Pengetahuan mereka sekadar yang Allah ajarkan kepada mereka. Pengetahuan mereka mencukupi buat mereka melaksanakan tugas mereka secara tepat. Mereka tidak berpengetahuan tentang apa yang di luar tugas mereka.

2-33: Dia (Allah) berfirman: “Wahai Adam! Terangkanlah kepada mereka nama-nama itu semuanya.” Maka setelah dia (Adam) menerangkan kepada mereka (malaikat-malaikat) nama-nama itu semua, Dia (Allah) berfirman: “Bukankah Aku (Allah) telah katakanlah kepada kamu bahawa sesungguhnya Aku (Allah) lebih mengetahui keghaiban semua langit dan bumi, dan juga Aku (Allah) mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”
Adam diciptakan sebagai khalifah di bumi. Oleh itu Adam berpengetahuan dan bermakrifat tentang apa-apa yang ada dalam bidang kekhalifahannya kerana Allah telah melengkapkannya untuk tugas tersebut. Allah sekali-kali tidak memberi sesuatu tugas sebagai wakil-Nya kepada mana-mana hamba-Nya tanpa memperlengkapkan hamba-Nya itu. Malaikat yang bertugas mencabut nyawa diberi kekuatan dan pengetahuan tentang urusan tersebut sehingga malaikat itu tidak tersalah mencabut nyawa orang yang sepatutnya belum mati. Para rasul diperlengkapkan dengan kekuatan dan pengetahuan buat menyebarkan risalah sehingga tidak terjadi rasul keliru mentafsirkan wahyu atau mengadakan amalan yang bertentangan dengan kehendak wahyu. ‘Dia (Allah) berfirman: Wahai Adam! Terangkanlah kepada mereka nama-nama itu semuanya. Maka setelah dia (Adam) menerangkan kepada mereka (malaikat-malaikat) nama-nama itu semua, Dia (Allah) berfirman: Bukankah Aku (Allah) telah katakanlah kepada kamu bahawa sesungguhnya Aku (Allah) lebih mengetahui keghaiban semua langit dan bumi, dan juga Aku (Allah) mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.’ Adam memaparkan ilmu dan makrifat yang ada dengannya. Nyatalah benar Allah telah mempersiapkan Adam secukupnya buat menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi. Malaikat mengakuinya. Makhluk yang benar mengakui kebijaksanaan Allah menjalankan peraturan-Nya. Allah menjadikan bumi, bulan, matahari, langit, malaikat, rasul-rasul dan lain-lain dalam sebaik-baik keadaan yang berhubung dengan kejadian masing-masing. Tiap sesuatu itu berfungsi dengan sempurna sebagaimana yang Allah aturkan. Hanya orang yang jahil sahaja tidak dapat melihat ketelitian dan kehalusan Sunnatu’llah.


AYAT 34 HINGGA 39:

2-34: Dan (ingatlah) tatkala Kami (Allah) berfirman kepada malaikat-malaikat: “Sujudlah kepada Adam.” Lalu sujudlah mereka kecuali iblis; ia (iblis) enggan dan takbur (menyombongkan diri), maka jadilah ia (iblis) daripada golongan yang kafir.
Daripada ayat 30 Allah menujukan firman-Nya kepada malaikat-malaikat berhubung dengan penciptaan Adam dan kedudukan Adam sebagai khalifah. Allah kumpulkan sekalian malaikat-malaikat. Ada dua kumpulan malaikat: Pertama malaikat pada bumi yang menjaga sekalian kejadian di bumi, mempastikan peraturan Allah berjalan dengan tepat dan sempurna. Kedua malaikat pada langit yang bertugas di dalam bidang pentadbiran Ilahi. Kepada kedua-dua kumpulan malaikat itu dihadapkan titah Allah mengistiharkan Adam sebagai khalifah di bumi. Malaikat bumi akur dengan titah Allah itu dan mereka akan mempastikan segala kejadian di bumi menerima Adam sebagai khalifah dan mengizinkannya (termasuk keturunannya) mengambil manfaat daripada sumber bumi. Malaikat di langit pun akur dengan titah Allah itu. Mereka akan mempastikan kedudukan dan kepentingan serta keperluan Adam tidak akan dicerobohi. Malaikat penjaga rezeki menjamin untuk menghantar rezeki kepada Adam (dan keturunannya). Malaikat penjaga wahyu menjamin akan menurunkan wahyu kepada Adam (dan keturunannya yang berkenaan). Malaikat pencabut nyawa menjamin akan mencabut nyawa Adam (dan keturunannya juga) menurut giliran yang telah ditetapkan buat mereka, tidak sekali-kali akan berlaku tidak adil. Malaikat penjaga neraka akan membakar mana-mana anak cucu Adam yang memasukinya, tidak ada kasihan belas. Begitu juga dengan malaikat-malaikat yang lain, akan menguruskan bidang masing-masing tanpa prejudis terhadap Adam. Apabila Allah menitahkan peristiharan Adam sebagai khalifah dan para malaikat akur dengan peristiharan tersebut, maka tanda mereka akur ialah mereka mesti sujud kepada Adam. ‘Dan (ingatlah) tatkala Kami (Allah) berfirman kepada malaikat-malaikat: Sujudlah kepada Adam. Lalu sujudlah mereka.’ Sujud malaikat kepada Adam boleh membawa dua pengertian. Pertama malaikat benar-benar sujud kepada jasad Adam seperti seorang manusia sujud kepada manusia yang lain. Keduanya malaikat sujud kepada titah Allah, peristiharan Allah dan pentadbiran Allah yang di metraikan pada kejadian Adam, iaitu malaikat sujud kepada Urusan Allah yang dikurniakan kepada Adam. Misalkan seorang raja membawa puteranya ke atas singgahsana dan mengistiharkan puteranya itu sebagai putera mahkota. Rakyat pun sujud. Sujud rakyat boleh jadi kepada putera mahkota dan boleh jadi kepada peristiharan raja namun, pada hakikatnya sujud itu kepada kerajaan.
Semua malaikat sujud: ‘Kecuali iblis; ia (iblis) enggan dan takbur (menyombongkan diri), maka jadilah ia (iblis) daripada golongan yang kafir.’ Sejak mula hinggalah kepada sebelum perintah sujud kepada Adam, semuanya bertaraf malaikat, belum ada yang bertaraf iblis walaupun sudah ada satu makhluk yang akan membawa wadah iblis. Perintah sujud menjadi furqan, pemisah yang hak dengan yang batil. Yang hak terus berada pada taraf malaikat sementara yang batil jatuh kepada taraf iblis. Sunnatu’llah sejak awal menunjukkan bahawa sujud itulah senyata-nyata pembeza yang beriman dengan yang kufur. Sujud juga merupakan sebenar-benar tanda pengabdian kepada Allah. Sesiapa yang enggan sujud kepada titah, hukum dan peraturan Allah, maka sebenarnya dia daripada iblis yang kufur akibat kesombongan. Perbezaan di antara golongan yang benar dalam pengabdian mereka kepada Allah dengan golongan iblis ialah SUJUD!
Bagaimana malaikat sujud? Sesuatu itu sujud menurut kejadiannya. Bumi sujud, bulan dan bintang juga sujud. Apa yang di bumi dan di langit sujud. Bahkan pokok-pokok kayu juga sujud. Sujud mereka tidak dapat disaksikan oleh manusia. Tetapi lantaran sujud itulah segala sesuatu itu berfungsi dengan sempurna. Sujud manusia mudah disaksikan. Manusia terdiri daripada dua anasir, anasir zahir dan anasir rohani. Anasir zahir, iaitu anasir nyata, sujudnya juga nyata, boleh dilihat secara terang-terangan. Sujud anasir zahir secara sempurna ialah membawa muka yang padanya ada dahi ke bumi disertai oleh anggota lain iaitu dua tapak tangan, dua lutut dan dua kaki. Tatkala anasir zahir meletakkan dahi ke bumi, anasir rohani pula sujud dengan sebenar-benar menjadi Muslim (berserah diri) kepada Allah, tidak ada sedikit pun padanya sifat iblis yang sombong dan kufur. Sujud anasir zahir ada waktu, tetapi sujud anasir rohani seharusnya berkekalan.
Manusia yang asal kejadiannya adalah tanah, meletakkan dahinya ke tanah tatkala sujud. Bumi, bulan dan matahari juga sujud pada ‘tanah’ masing-masing. Manusia tidak nampak tanah bagi bumi, tanah bagi bulan dan tanah bagi matahari. Tetapi mereka nampak tanah mereka dan sujud ke atasnya. Sebelum dijadikan bumi, bulan, matahari, bintang dan lain-lainnya, sudah pun ada kejadian lain yang lebih awal yang daripadanya dijadikan bumi, bulan, matahari, bintang dan lain-lainnya. Sekali pun sudah diciptakan berbagai-bagai kejadian namun, kejadian awalnya masih lagi di sana dan mereka sujud ke atas kejadian awal masing-masing. Sekali mereka sujud mereka tidak bangkit lagi, sebab itulah mereka tidak tergelincir dan tidak menyimpang. Langit juga mempunyai kejadian awalnya dan langit sujud ke atas kejadian awalnya itu. Malaikat juga mempunyai kejadian awal iaitu nur. Malaikat yang sudah diciptakan daripada nur walau mengambil bentuk apa sekali pun tetap sujud ke atas nur awalnya. Bagaimana rupa sujud itu tiada yang mengetahuinya, melainkan Allah jua yang mengetahui.
Sujud manusia tidak berkekalan. Sujud zahirnya pada waktu tertentu sahaja manakala sujud rohaninya tidak menetap. Lantaran itu manusia mudah tergelincir dan menyimpang. Apa lagi manusia yang tidak sujud zahir dan rohaninya. Manusia yang tidak sujud itulah yang mewarisi sifat iblis iaitu sombong, takbur. Mereka itulah yang kufur, sama ada menjadi kafir terang-terangan atau menjadi kafir secara sembunyi iaitu munafik atau menjadi orang Islam yang jahat dan terkeluar daripada kebenaran iaitu fasik.

2-35: Dan Kami (Allah) berfirman: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isteri engkau di dalam jannah (taman/syurga) ini, dan makanlah kamu berdua daripadanya (makanan di dalam jannah) sepuas-puasnya sebagaimana kamu berdua sukai, dan janganlah kamu hampiri pokok ini; (kalau kamu menghampirinya) kamu akan tergolong daripada orang yang zalim.
Setelah nyata mereka yang sujud dan mereka yang enggan sujud, Adam dan isterinya di tempatkan di jannah (taman/syurga). ‘Dan Kami (Allah) berfirman: Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isteri engkau di dalam jannah (taman/syurga) ini, dan makanlah kamu berdua daripadanya (makanan di dalam jannah) sepuas-puasnya sebagaimana kamu berdua sukai, dan janganlah kamu hampiri pokok ini; (kalau kamu menghampirinya) kamu akan tergolong daripada orang yang zalim.’ Adam dan isterinya ditegah daripada mendekati satu pohon. Pohon itu akan memudaratkan mereka jika didekati apalagi jika memakan buahnya. Pohon apakah itu? Cukuplah kita menerimanya sebagai pohon terlarang. Tidak usah di teka-teka.

2-36: Digelincirkan kedua-duanya oleh syaitan daripada (larangan) itu, maka (Allah) mengeluarkan keduanya dari tempat mereka berada (jannah). Dan Kami (Allah) berfirman: “Turunlah kamu! Sebahagian daripada kamu menjadi musuh kepada sebahagian yang lain; dan bagi kamu di bumi, adalah tempat menetap dan kesenangan, sehingga sampai waktu yang ditentukan.”
‘Digelincirkan kedua-duanya oleh syaitan daripada (larangan) itu.’ Iblis yang enggan sujud mempunyai potensi yang besar di dalam mengeluarkan tenaga jahat. Bekas yang menerima tenaga jahat iblis dinamakan syaitan. Syaitan boleh jadi berbangsa jin atau berbangsa manusia. Bahkan pada diri setiap manusia itu ada persediaan untuk menerima syaitan daripada luar atau untuk terus menjadi syaitan. Adam terpedaya oleh pujuk rayu dan kata-kata manis syaitan. Adam gagal berpegang teguh kepada peringatan bahawa makhluk yang enggan sujud itu akan mendatangkan kemudaratan kepadanya, tidak sekali-kali membiarkannya bersenang-senang. Ramai daripada keturunan Adam yang menganut al-din Islam juga gagal melihat betapa besarnya bahaya yang ada dengan mereka yang enggan sujud, baik jin atau manusia sendiri. Pujuk rayu dan kata-kata manis golongan yang enggan sujud itu sering mengheret umat Islam ke dalam kebinasaan. Bapa manusia, Adam, telah menerima padahnya: ‘Maka (Allah) mengeluarkan keduanya dari tempat mereka berada (jannah).’ Keadaan bersenang-lenang dan dapat memakan apa sahaja yang disukai, ditarik semula. ‘Dan Kami (Allah) berfirman: Turunlah kamu!’ Turun daripada jannah ke tempat yang lebih bawah iaitu bumi atau dunia dalam keadaan: ‘Sebahagian daripada kamu menjadi musuh kepada sebahagian yang lain.’ Permusuhan di antara manusia dengan syaitan dan permusuhan sesama manusia akan berlaku di bumi, di dalam dunia. Sebelum Adam diturunkan ke bumi bagi menjalankan tugas sebagai khalifah, Adam terlebih dahulu diberitahu keadaan umat yang akan ditadbirkannya. Bumi, bahan-bahan bumi dan dunia mengeluarkan pengaruh dan tarikan yang mengakibatkan berlaku kekacauan, permusuhan dan berbunuh-bunuhan sesama keturunan Adam, seperti yang telah diketahui oleh para malaikat. Adam tidak disuruh tunduk kepada kekacauan dan keburukan yang lahir daripada anasir-anasir bumi itu. Allah melantik Adam sebagai khalifah, wakil Allah, iaitu orang yang dipertanggungjawabkan oleh Allah untuk memakmurkan bumi, mengharmonikan anasir-anasir bumi dengan manusia, menghubungkan silaturrahim sesama manusia, menekankan perbezaan dan menonjolkan persamaan dan mengwujudkan suasana sejahtera. Peringatan ringkas daripada Allah itu memberi pengajaran yang besar kepada Adam dalam memahami bidang kekhalifahannya. ‘Dan bagi kamu di bumi, adalah tempat menetap dan kesenangan, sehingga sampai waktu yang ditentukan.’ Ditetapkan bagi Adam dan keturunannya mendiami bumi, tidak boleh meminta tempat lain, apa lagi tempat di mana Adam diciptakan. Bumi bukan sekadar menjadi tempat tinggal malah lebih utama ialah di sinilah manusia diberi kesempatan mencari perbekalan, baik untuk kehidupan mereka di bumi mahupun untuk kehidupan mereka sesudah kehidupan bumi. Allah memberi bimbingan kepada Adam dalam menangani kekacauan di kalangan umatnya. Adam perlu memberi kesedaran kepada keturunannya bahawa hanya bumi ini sahaja yang diberikan kepada mereka sebagai tempat tinggal. Jika bumi ini rosak, hancur luluh, mereka tidak ada tempat lain untuk pergi. Jadi mereka perlu mencintai bumi ini sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri. Mereka juga harus sedar bahawa kehidupan mereka di bumi tidak kekal. Perjalanan mereka masih jauh. Semasa di bumi inilah mereka perlu mengambil perbekalan untuk pengembaraan yang berikutnya. Manusia perlu insaf, asalnya mereka tidak ada. Kemudian Allah menciptakan manusia sekali pun pada mulanya malaikat meragui ciptaan itu. Allah Maha Berdiri Dengan Sendiri, tidak terpengaruh dengan ilmu dan pendapat malaikat. Lantaran itu penciptaan manusia tetap terlaksana. Setelah tinggal di jannah, Adam pergi pula kepada kehidupan di bumi. Adam sudah memasuki tiga suasana: Tidak ada, tinggal di jannah dan tinggal di bumi. Bukanlah perkara mustahil ada kehidupan lain setelah kehidupan bumi. Oleh itu percayalah kepada pesanan Allah dan ambillah bekal untuk perjalanan seterusnya. Jika umat manusia menginsafi semua ini akan sejahteralah kehidupan mereka di bumi.

2-37: Setelah itu, Adam menerima beberapa kalimah daripada Rab (Tuhan)nya, maka Dia (Allah) menerima taubatnya (Adam); sesungguhnya Dia (Allah) adalah al-Tawwab (Maha Penerima taubat), al-Rahim (Maha Mengasihani).
Setelah menerima watikah, sebelum menjalankan tugas, Adam mendapat rahmat yang paling besar daripada Allah: ‘Setelah itu, Adam menerima beberapa kalimah daripada Rab (Tuhan)nya, maka Dia (Allah) menerima taubatnya (Adam); sesungguhnya Dia (Allah) adalah al-Tawwab (Maha Penerima taubat), al-Rahim (Maha Mengasihani).’ Adam telah bersalah dan tidak tahu bagaimana mahu menebus kesalahan itu. Adakah dia akan turun ke bumi membawa bersama dosanya? Di bumi nanti, sebagai salah satu bidang kekhalifahannya ialah mengembangkan zuriat. Adakah dirinya yang berdosa itulah yang akan menurunkan zuriat dan intipati dosanya itu akan menyerap kepada zuriatnya? Tidak, sama sekali tidak! Allah telah mengurniakan beberapa kalimah kepada Adam. Kalimah itu memutuskan dosa yang lalu dengan kehidupan yang mendatang. Adam boleh turun ke bumi menjalankan tugasnya dengan tenang kerana Allah telah mengampuninya.
Adam yang berdosa sanggup rujuk (kembali) kepada Allah. Tangan Allah sentiasa bersedia menyambut kepulangan hamba-Nya. Berapa jauh sekali pun hamba itu terpelanting, kembalilah dan Allah akan menyambutnya. Sunnatu’llah! Allah tentukan pada diri-Nya bahawa Dia adalah Pemberi ampun. Dia sendiri yang mengajar kepada Adam cara bertaubat. Adam mematuhi-Nya dan melakukan sebagaimana yang Allah ajarkan. Allah berpegang kepada janji-Nya, demi kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya, lalu Dia ampunkan Adam. Maha Suci Rab (Tuhan) kami, sesungguhnya janji Rab (Tuhan) kami pasti terlaksana!

2-38: Kami (Allah) berfirman: “Turunlah kamu sekalian dari (jannah) ini! Kemudian jika datang kepada kamu petunjuk daripada-Ku (daripada Allah), maka sesiapa yang menuruti petunjuk-Ku (petunjuk Allah) itu, nescaya tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berdukacita.”
Sampailah masanya buat Adam berangkat ke matlamat atau tujuan penciptaannya. Dia akan pergi ke tempat baharu lagi asing baginya. Dia akan menjalankan tugas yang besar. Terasa berat di dalam hati, tetapi Allah menenangkannya dan memberi jaminan. ‘Kami (Allah) berfirman: Turunlah kamu sekalian dari (jannah) ini! Kemudian jika datang kepada kamu petunjuk daripada-Ku (daripada Allah), maka sesiapa yang menuruti petunjuk-Ku (petunjuk Allah) itu, nescaya tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berdukacita.’ Allah tidak akan membiarkan Adam meraba-raba di dalam kegelapan, tidak tahu apa yang hendak dibuat. Dia (Adam) diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Dia diperlengkapkan bagi menjalankan tugas tersebut. Allah telah mengajarkannya nama-nama semuanya. Walaupun begitu Allah menjaminkan akan menurunkan petunjuk dari masa ke masa. Petunjuk dari Allah mempunyai tenaga yang maha besar kerana sesiapa mentaati petunjuk Allah itu akan terlepas daripada ketakutan dan dukacita. Hidup di bumi penuh dengan ujian, pancaroba dan perkara-perkara yang mengancam kesejahteraan manusia. Malapetaka itu mendatangkan cengkaman dan ketakutan pada jiwa manusia. Ketidak-upayaan manusia mengatasi sesuatu malapetaka itu mendatangkan dukacita dalam jiwanya. Penawar bagi semua itu ialah mentaati petunjuk dari Allah. Ketaatan kepada petunjuk Allah menjadikan jiwa kuat, mampu bertahan di kala menerima himpitan dan dapat menghilangkan dukacita di kala hasrat dan ikhtiar tidak membuahkan hasil.

2-39: Dan orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Allah), mereka itu ahli (penghuni) neraka, mereka kekal di dalamnya.
‘Dan orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Allah), mereka itu ahli (penghuni) neraka, mereka kekal di dalamnya.’ Adam diberi kesedaran bahawa tidak semua keturunannya akan mentaati petunjuk Allah. Ramai daripada mereka akan kufur dengannya. Mereka akan menjadi rezeki neraka. Bahan neraka ternyata di dalam dunia iaitu ketakutan dan dukacita. Mereka akan lari dari masalah seperti tikus masuk ke dalam lubang. Mereka mengalami resah gelisah seperti cacing kepanasan. Dukacita menjadi teman mereka. Pandang ke kanan dukacita, pandang ke kiri juga dukacita. Mati mereka di dalam ketakutan dan dukacita. Bersedialah pula mereka menghadapi azab yang lebih besar iaitu neraka. Kekal mereka di dalamnya.
Kisah-kisah penciptaan Adam, soal-jawab malaikat, persiapan Adam dengan ilmu dan bakat yang mencukupi bagi menjalankan tugas, perintah sujud, kekufuran iblis, kehidupan Adam dan isteri di dalam jannah, kesalahan Adam mendengar tipu daya syaitan dan penurunan Adam ke bumi, semuanya itu memberi iktibar yang besar bagi umat manusia, keturunan Adam.
Sebelum Adam turun ke bumi di manakah berlakunya kisah-kisah yang lain itu? Adam diturunkan ke bumi atau dunia yang bermaksud tempat yang rendah. Tentu sekali penurunan itu dari tempat tinggi ke tempat rendah. Di tempat yang tinggi itu ada malaikat-malaikat, menunjukkan ianya alam malaikat-malaikat atau alam malakut. Penghuni alam malakut itu semuanya bertaraf malaikat hinggakan makhluk yang berpotensi menjadi kafir pun bertaraf malaikat pada ketika itu. Adam yang diciptakan dalam alam itu juga bertaraf malaikat tetapi membawa potensi insan. Adam yang berada dalam alam malakut hidup dengan bakat malaikat, tidak memerlukan udara, perjalanan darah dan juga fungsi jantung. Bakat malaikat yang ada dengan Adam itu rosak apabila Adam mendekati atau memakan buah dari pokok terlarang. Adam tidak ada pilihan kecuali meninggalkan alam malakut dan pergi ke tempat yang sesuai dengan perubahan bakat kehidupannya. Jika Adam masih juga terus tinggal di alam malakut mungkin Adam akan mengalami kematian atau hilang fungsi tubuh badannya. Penghijrahan Adam ke bumi memastikan kesinambungan kehidupannya. Di samping itu perlu juga dilihat kepada peristiwa malaikat-malaikat diperintahkan sujud. Semuanya pada ketika itu berkedudukan sebagai malaikat. Walau apa pun taraf dan kedudukan seseorang atau satu-satu individu itu namun, dalam dirinya tersembunyi potensi sebenar atau rahsia seni dirinya. Rahsia seni ini akan keluar juga akhirnya bila suisnya tersentuh. Perintah sujud menyentuh suis rahsia seni satu makhluk. Bila suisnya itu diaktifkan muncullah bakat-bakat sebenar rahsia seni tersebut. Jika dikumpulkan bakat-bakat itu dan dilihat sebagai satu sahaja maka ia dikenali sebagai iblis. Makhluk yang diberi kedudukan sebagai malaikat tetapi memiliki potensi atau rahsia seni iblis akhirnya menjadi iblis juga. Adam yang diberi ilmu dan ditempatkan di dalam jannah tidak dapat lari daripada potensi atau rahsia seni dirinya. Dalam rahsia seni itu ada kelemahan-kelemahan, mudah percaya kepada janji-janji dan kata-kata manis, mahu menjaga kepentingan diri, inginkan kehidupan abadi dan lain-lain. Bila mendengar pujukan, kata-kata manis dan janji-janji keabadian daripada syaitan, tersentuhlah suis rahsia seni Adam dan aktiflah sifat insan pada diri Adam. Baharulah Adam benar-benar menjadi manusia yang akan memegang jawatan khalifah di bumi. Setiap orang ada rahsia seni masing-masing. Rahsia seni itulah destininya. Bila dia sudah menemui rahsia seninya kenallah dia akan dirinya dan berjalanlah dia dengan bakat sebenar dirinya itu.

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 28 sampai 29

Surat Al-Baqarah ayat [28-29]



قَالَ اللهُ تَعَالَى :كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {28} هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلىَ السَّمَآءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمُُ {29}

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan..[28]. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. [29].

Tafsirannya:

(28). (Mengapa kamu kafir kepada Allah); pertanyaan ini sebagai pengingkaran dan rasa heran terhadap kondisi mereka, seakan Dia Ta’ala berfirman: ‘mengapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu mengetahui kisah ini dari awal hingga akhirnya?. (padahal kamu tadinya mati); yakni sebelum kamu diciptakan alias dari tiada. (lalu Allah menghidupkan kamu); yakni Dia menciptakan dan meniupkan ruh-mu. (kamu dimatikan); ketika ajalmu berakhir. (dan dihidupkan-Nya kembali); pada hari kiamat. (kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan); yakni dikumpulkan di al-Mauqif (padang Mahsyar) disisi Allah Ta’ala lalu Dia Ta’ala memberikan ganjaran atas semua perbuatanmu.

(29). (Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu); sebagai kemuliaan dari-Nya dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk waktu tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh “Tsummas tawa: (artinya): ‘dan Dia berkehendak (menciptakan)’ ”, mashdar/kata bendanya adalah istiwa’. Jadi, al-Istiwa’ artinya meninggi dan naik keatas sesuatu sebagaimana makna firman Allah Ta’ala (dalam ayat yang lain-red): “Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…”. (Q.S.Al-Mu’minun/23:28). (lalu dijadikan-Nya); meluruskan (menyempurnakan) penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat didalamnya-red) [Zub]. (tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu); meskipun demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia Yang tiada ilah dan Rabb (Yang berhak disembah) selain-Nya. [Ays]

PETUNJUK AYAT:
Mengingkari perbuatan kufur kepada Allah Ta’ala.
Menegakkan hujjah/dalil atas adanya Allah, qudrat serta rahmatNya.
Halalnya segala sesuatu * yang ada di muka bumi; baik makanan, minuman, pakaian serta tunggangan kecuali yang telah diharamkan berdasarkan dalil yang khusus dari Kitabullah atau as-Sunnah. Hal ini berdasarkan firman Allah:”Dia telah menciptakan ** bagi kamu semua apa yang ada di muka bumi”. [Ays]

: (Syaikh Abu Bakar al-Jazairy berkata): “sebagian ulama berpendapat bahwa hukum asal segala sesuatu adalah dilarang/diharamkan hingga ada dalil yang membolehkannya/menghalalkannya sebab semua yang dimiliki tidak halal/boleh kecuali dengan seizin pemiliknya; ini merupakan pendapat lain yang baik untuk disebutkan disini”. [Ays]

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 26 sampai 27

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:”Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, [26]. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”.[27]

Sebab Turun Ayat

Tatkala Allah Ta’ala memberikan dua permisalan terdahulu, yaitu permisalan api dan air,* orang-orang Munafiq berkata: “Allah adalah Maha Tinggi dan Maha Mulia ketimbang sekedar memberikan permisalan seperti ini!”. Lalu Allah menurunkan ayat ini {“Sesungguhnya Allah tiada merasa malu…” }; sebagai bantahan atas pernyataan mereka tersebut. [Ays]
* Ibnu Jarir menurunkan riwayat ini dan beliau menyetujuinya.

Tafsirannya

(26). (Sesungguhnya Allah tiada merasa malu membuat perumpamaan) ; Allah Ta’ala menurunkan ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir manakala mereka berkata: “Allah adalah Maha Mulia dan Maha Agung daripada hanya sekedar memberikan permisalan-permisalan tersebut”. Selanjutnya mereka berkata lagi: “Sesungguhnya di dalam al-Qur’an disebut nama lebah (an-Nahl), laba-laba (al-‘Ankabuut) dan semut (an-Naml) padahal semuanya ini tidak layak dibicarakan oleh orang-orang yang fashih” [Zub]. (berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu) ; yakni lebih kecil darinya seperti sayapnya. Bisa juga yang dimaksud dengan itu, yang lebih besar darinya**. [Zub]. (Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa hal itu) ; yakni perumpamaan itu. (benar); dan tsabit (tetap/eksis), yaitu lawan dari bathil. [Zub]. Sesungguhnya orang-orang yang menyikapi perumpamaan yang diberikan oleh Allah tersebut terbagi menjadi dua kelompok: ada kelompok orang-orang beriman yang mereka itu yakin hal itu adalah benar (dari Rabb mereka), juga ada kelompok orang-orang Kafir yang mengingkarinya dan berkata seperti halnya para penentang (kebenaran): (“Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”). [Ays] . (Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk) ; yakni dengan perumpamaan ini Allah menghendaki untuk menyesatkan banyak kaum, dan juga memberikan petunjuk kepada yang lainnya. [Zub]. (Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) ; ini adalah bagian dari Kalam Allah Ta’ala – dan maknanya: mereka itu berbuat fasik maka Allah menyesatkan mereka karena kefasikan mereka dan telah meremehkan Kalam Rabb mereka – . Kata al-Fisq dalam terrminologi syara’ maknanya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala; bisa terjadi terhadap orang yang keluar karena kekufuran atau keluar karena kemaksiatan.[Zub].
** seperti kupu-kupu dan belalang. [Ays].

(27). ((yaitu) orang-orang yang melanggar) ; kata an-Naqdh (pelanggaran) -dalam ayat tersebut- maknanya adalah merusak sesuatu yang telah dikuatkan/dikokohkan baik berupa bangunan, tali ataupun janji. Dan firmanNya: (melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh); yaitu perjanjian yang telah dikokohkan kepada mereka di dalam al-Qur’an dan mereka telah menyetujuinya – serta mereka komitmen untuk ta’at dan mutaaba’ah (follow up) – kemudian mereka kufur lantas melanggarnya. [Zub]. (dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya) ; yakni (menghubungkan) rahim/silaturrahim dan kekerabatan. [Zub]. (dan membuat kerusakan di muka bumi) ; mereka melakukan perbuatan maksiat diatasnya. [Zub]. (Mereka itulah orang-orang yang rugi) ; mereka adalah penghuni neraka – jadi, hal ini bukan sebagaimana yang mereka sangka bahwa dengan melanggar perjanjian tersebut, mereka akan mencapai kemaslahatan yang mereka idam-idamkan. Artinya, bahwa menepati perjanjian dengan Allah adalah (justru) merupakan kemaslahatan yang paling besar sedangkan mereka malah menyia-nyiakannya -. [Zub]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk dari kedua ayat tersebut adalah:
Bahwa rasa malu hendaknya tidak mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan ma’ruf/baik, mengatakannya dan memerintahkan untuk melakukannya.

Sangat baik sekali memberikan permisalan-permisalan dalam upaya mendekatkan akal kepada makna-makna yang ingin dipahami.

Bila Allah menurunkan suatu kebaikan berupa petunjuk dan lainnya maka orang-orang yang beriman akan bertambah intensitas mereka dalam mengikuti petunjuk dan melakukan perbuatan baik sedangkan orang-orang kafir sebaliknya, akan bertambah intensitas mereka dalam mengikuti kesesatan dan melakukan perbuatan jahat. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan kesiapan mental dari masing-masing kelompok tersebut.

Peringatan terhadap sifat al-Fisq (kefasikan) dan implikasinya yang berupa pelanggaran terhadap perjanjian, pencegatan terhadap kebaikan dan pencegahan terhadap perbuatan ma’ruf. [Ays].

Kandungan Surah Al-Baqarah ayat 25

Surat Al-Baqarah ayat [25]

قال تعالى :وَبَشِّرِ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتُشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجُُ مُطَهَّرَةُُ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“ Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:”Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. 2:25)

Korelasi Ayat

Tatkala Allah Ta’ala menyinggung tentang neraka dan penghuninya, maka adalah sinkron bila Dia Ta’ala juga menyinggung tentang surga dan penghuninya sehingga at-Tarhib wat Targhib (ultimatum dan sugesti) dapat menjadi sempurna. Kedua metode ini (at-Tarhib wat Targhib) merupakan sarana dalam memberikan hidayah dan ishlah. [Ays]

Tafsiran Ayat

(25). (Dan sampaikanlah berita gembira (at-Tabsyir) kepada mereka yang beriman) ; makna at-Tabsyiir adalah memberitakan sesuatu yang bekas/pengaruhnya tampak di kulit (raut muka) lantaran gembira dan senang. (dan berbuat baik [ash-Shalihat]) ; perbuatan-perbuatan yang lurus (dilakukan secara istiqamah), yang mereka dituntut untuk melakukannya dan diwajibkan atas mereka – atau yang dianjurkan oleh Allah Ta’ala untuk dilakukan – sebab surga hanya dapat diraih dengan keimanan dan amal yang shalih. (bahwa bagi mereka disediakan surga-surga) ; surga-surga (jannaat) maknanya adalah al-Basaatiin (kebun-kebun/taman-taman), yaitu nama rumah pahala secara keseluruhan yang menaungi surga-surga yang banyak. (yang mengalir sungai-sungai di dalamnya) ; yakni mengalir dibawah pepohon-pepohonannya dan rumah-rumah tinggal didalamnya. (Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu ) ; dari berbagai jenisnya. (mereka mengatakan:’ Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ‘ ) ; bahwasanya ia berupa (buah-buahan) yang serupa, sebanding dan sejenis dengannya, dimana warnanya serupa meskipun berbeda dalam ukuran, citarasa dan aromanya. Bila mereka memakannya, mereka mendapatkan rasa yang bukan seperti rasa yang dulu (pernah mereka nikmati). (Mereka diberi buah-buahan yang serupa) ; dalam kualitasnya dan tidak ada yang rusak sedikitpun. (dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci); yang dimaksud dengan isteri-isteri yang suci adalah bahwa mereka tidak seperti wanita-wanita lainnya yang mengalami haidh dan nifas serta kotoran-kotoran lainnya. (dan mereka kekal di dalamnya) ; kekal (al-Khuluud) artinya tinggal didalamnya secara kontinyu dan tidak terputus lagi. (Zub)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya agar memberitakan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang istiqamah tentang rizki yang disediakan-Nya untuk mereka berupa surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, yang didalamnya ada isteri-isteri yang suci, bersih serta terbebas dari seluruh kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit; mereka kekal didalamnya. Dia Ta’ala juga memberitakan tentang mereka yang saat disediakan kepada mereka berbagai jenis buah-buahan, lalu berkata: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ketika di dunia’. Demikian pula, Dia Ta’ala memberitakan bahwa yang diberikan kepada mereka itu adalah serupa warnanya namun tidak serupa rasanya akan tetapi memiliki kualitas plus dari sisi keindahan dan kesempurnaannya serta kelezatannya yang tak terkira. [Ays]

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas:
Keutamaan iman dan amal shalih yang karenanya – setelah keutamaan dan rahmat yang diberikan oleh Allah – kenikmatan seperti yang tersebut dalam ayat diatas dapat dirasakan oleh para pelakunya.
Mengimingkan orang-orang yang beriman akan kenikmatan yang ada di Daarus Salam (rumah kedamaian, surga) dan kenikmatan berdiam didalamnya sehingga keinginan mereka terhadapnya dan amal yang mereka lakukan untuk mendapatkannya semakin bertambah, yaitu dengan berbuat kebajikan-kebajikan dan meninggalkan semua bentuk kemungkaran.

Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 23 sampai 24

Ayat 23:


وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ
وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ


“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[1] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.
Penjelasan Ayat

Penjelasan ayat ini bahwa sebelumnya Allah SWT telah menetapkan pokok agama, yaitu tauhid yang merupakan kegiatan spiritual beribadah, maka pada ayat ini Allah menetapkan pokok agama yang kedua, yaitu kerasulan: Nabi Muhammad SAW. Hal ini terjadi melalui cara pembuktian (tantangan): “Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami Muhammad SAW, maka buatlah satu surat (saja) dari yang semisal surat-surat yang ada dalam al-Qur’an, sekiranya kamu tidak mampu membuatnya karena kelemahanmu, maka jagalah dirimu dari api neraka yaitu dengan beriman kembali kepada wahyu ilahi dengan beribadah kepada Allah SWT sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan-Nya”.
PETUNJUK AYAT

Diantara petunjuk ayat:


Pengukuhan kenabian Rasul SAW yang dimantapkan dengan turunnya al-Qur’an.
Menguatkan kelemahan manusia untuk membuat satu surat saja seperti surat-surat yang ada dalam al-Qur’an.


Api neraka dapat dijauhi dengan keimanan dan amal yang shalih.

Tantangan untuk itu tetap berlaku namun belum ada mereka yang mampu membuatnya, walaupun satu surat saja.

Ayat ini dalam bahasa Arab namanya tahaddi yaitu tantangan. Di Mekkah dan Madinah zaman dahulu, bukan sedikit ahliahli syair dan Kahin (tukang mantra) yang dapat mengeluarkan kata dengan tersusun rapi. Namun tidak ada satupun yang dapat menandingi al-Qur’an. Bahkan sampai kepada zaman kita sekalipun, bangsa Arab masih tetap mempunyai pujangga-pujangga besar, akan tetapi mereka tetap tidak sanggup untuk membandingkan apalagi mengadakan satu tantangan dengan alQur’an. Seorang pujangga arab terkenal Dr.Taha Husain[2], mengatakan bahwa bahasa Arab itu mempunyai dua macam sastra, yaitu prosa (manzhum) dan puisi (mantsur) dan yang ketiga ialah al-Qur’an. Beliau tegaskan bahwa al-Qur’an bukan prosa, bukan puisi, al-Qur’an ialah al-Qur’an. Tahaddi atau tantangan itu akan terus tejadi sampai akhir zaman. Dan untuk merasai betapa hebatnya tantangan dan betapa pula matinya jawaban atas tantangan itu, sebaiknya kita mengerti bahasa Arab dan dapat membaca al-Qur’an itu. Dengan demikianlah kita akan mencapai satu keyakinan (‘ain al-yakin) dari tantangan ini. Semakin bertambah kita mendalaminya, mempelajari sastra-sastra dan tingkatan-tingkatan kemajuannya, semakin bertambah yakinlah kita bahwa tidak dapat dikemukakan satu surat pun untuk menandingi al-Qur’an. Apalagi surat alBaqarah yang terdiri dari 286 ayat, terlalu panjang untuk kita jadikan sebagai tandingan, surat-surat yang pendek seperti al-lkhash, surat alKautsar, itupun tidak ada manusia yang kuasa membuat surat tandingan untuk melawan dia (al-Qur’an).



Ibnu Jauzi di dalam kitabnya Zaad al-Masir menerangkan sebab turunnya ayat ini karena orang Yahudi[3] mengatakan bahwa ayat-ayat yang turun kepada Nabi Muhammad selama ini tidak menyerupai wahyu. Dengan demikian, mereka dalam keadaan syak (ragu), kemudian turunlah ayat ini.

Setelah Allah menyebutkan dalil-dalil bukti tauhid sebagai hujah ke atas nabi, maka datanglah segala pembuktian kemukjizatan al-Quran melalui ayat ini.


Maksud buatlah satu surat (saja) yang seperti al-Quran, yaitu buatkan satu surah yang seperti al-Quran dari segi balaghah, fasahah dan keterangannya. Imam Al-Syaukani dalam tafsirnya Fath al-Qadir berkata, “Yang seperti itu, kembali kepada al-Quran”.

Syeikh Rashid Ridha menyatakan bahwa yang ditarjihkan oleh gurunya, Syeikh Muhammad Abduh, seperti itu kembali kepada nabi Muhammad adalah khusus dalam ayat ini, tidak menafikan kelemahan untuk mendatangkan dengan surah seperti surah-surah al-Quran sekalipun jumhur berpendapat yang lain. Allah memberikan satu tantangan kepada manusia mengenai isi dan kebenaran al-Quran dengan tiga tantangan sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kalam, iaitu:
Memberikan tantangan untuk membuat al-Quran secara keseluruhan seperti dalam surah Al-Isra’
Tantangan untuk membuat sepuluh surah saja seperti dalam Surah Huud
Tantangan untuk membuat satu surah sebagaimana dalam ayat ke-23 ini.

Pendapat lain mengenai kalimat seperti itu kembali kepada kitab Taurat dan Injil karena makna datangkan dengan surah daripada kitab-kitab seumpamanya, sudah tentu hanya sesuai dan layak dengan kitab-kitab seperti itu. Selanjutnya, Allah menantang mereka dengan kenyataan-Nya: dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah yang bermaksud panggillah pembantu-pembantu kamu yang dapat menolongmu dalam perlawanan menentang al-Quran. Dengan maksud meminta tolong dengan siapa yang kamu kehendaki selain daripada Allah. Al-Baidhawi berkata, “Makna ayat ini adalah mengajak dan memanggil baik itu manusia, jin ataupun tuhan-tuhan selain Allah, niscaya mereka tiada mampu dan kuasa untuk mendatangkan surah seumpama al-Quran kecuali Allah juga.”

Ibnu Jauzi berkata, “Terdapat tiga tafsiran pada kalimat penolong-penolongmu, iaitu:
Tuhan-Tuhan mereka, ini seperti yang diungkapkan Ibnu Abbas, al-Suddi, Muqatil dan Farra’
Mereka yaitu pembantu-pembantunya, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas.
Datangkanlah manusia untuk menyaksikan apa yang kamu buat seperti dalam al-Quran, sebagaimana pendapat Mujahid. Adapun Ibnu Abbas memberikan pendapat mereka (yang masih ragu) menganggap bahwa Al-Quran datang bukan dari Allah.


Al-Samarqandi berkata, “ayat-ayat ini merupakan asal dan sumber bagi semua apa yang dikatakan oleh ahli kalam kerana pada awal ayat ia menisbahkan pencipta dan pada akhir ayat ia menisbahkan kenabian Muhammad SAW.”


Abu Jaafar al-Tabari melalui tafsirnya Sami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran berkata, “Ini dari Allah yang berhujah untuk nabi-Nya ke atas orang-orang musyrikin dari kaum Arab, orang-orang munafikin dan orang-orang kafir ahli kitab yang sesat di kalangan mereka.


AYAT 24:


فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ



“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.



Ayat ini meneruskan lagi cabaran Allah kepada mereka dengan kenyataan Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, bermaksud jika sekiranya kamu tidak mampu mendatangkan seumpama satu surah dan surah-surahnya, dan kamu telah lemah (gagal) pada masa lalu untuk mendatangkan setarafnya atau kurang sedikit sekalipun kamu minta bantuan daripada ahli-ahli bahasa dan pakar-pakar sastera, pasti kamu tidak dapat membuatnya dengan maksud tidak kuasa pada masa akan datang juga. Dengan kata lain sebagaimana kamu lemah pada masa dulu, begitu juga pada masa akan datang.


Ibnu Katsir berkata, “Allah menantang mereka melalui al-Quran sekalipun mereka semua adalah sefasih-fasihnya manusia, walau bagaimanapun mereka tetap lemah. Huruf (Lan=nafi) selama-lamanya pada masa akan datang, maksudnya kamu selama-lamanya tidak mampu melakukan penciptaan seperti al-Quran. Ini menandakan bahwa al-Quran pasti tidak mungkin dan bukan tandingannya sebagai tantangan, baik masa dulu atau sampai kapanpun.


Kemudian Allah SWT menyebut peliharalah dirimu dari neraka dengan maksud takutlah azab Allah dan awaslah daripada terjerumus ke neraka Jahannam yang Allah sediakan sebagai balasan kepada pendusta-pendusta dimana neraka yang disifatkan seperti bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir, iaitu bahan-bahannya yang terdiri dari orang kafir dan batu-bata yang dijadikan berhala untuk disembah selain daripada Allah. Mujahid berkata, “Batu-bata yang dijadikan api unggun dan bahan bakar lebih busuk daripada bangkai yang diazabkan bersama neraka.” Orang-orang kafir di sini adalah yang ingkar, layak menerima berbagai azab. Ibnu Jauzi berkata, ”Bahan bakarnya daripada batu-bata.”
Disini, ada dua pandangan ulama yang memberikan keterangan, yaitu:
Berhala-berhala yang mereka sembah, seperti pendapat al-Rabi’ Ibnu Anas
Batu-bata yang dijadikan sebagai api unggun panasnya melebihi atas semua jenis siksaan yang ada.


Diriwayatkan daripada Ibnu Mas’ud tentang batu yang menjadi bahan bakar dikhususkan demikian kerana ia dilebihkan daripada segala batu-bata dengan lima jenis azab[4]:
Cepat terbakar
Bau yang begitu busuk
Tebalnya asap yang dikeluarkan
Kuatnya melekat pada badan
Kuatnya rasa panas


Al-Mawardi di dalam kitabnya al-Nukat Wa Uyun berkata, “Pada ayat disediakan bagi orang-orang kafir terdapat dua pandangan:
Bahwa neraka(ini), sekalipun disediakan untuk orang-orang kafir, juga ditujukan kepada siapapun yang layak dikenakan azab walaupun bukan dari kalangan kafirin, maksudnya di tempat neraka yang sama, hanya jenis azabnya yang berbeda; sesuai dengan tahapannya masing-masing.
Neraka ini hanya disediakan untuk orang-orang kafir saja, adapun mereka (ingkar tetapi tidak sampai kepada ke-kafir-an) tetap dikenakan azab dan disediakan neraka lain.


Ibnu Atiyyah menafsirkan lafadz disediakan adalah satu bentuk menolak (counter attack) kepada mereka yang berpendapat bahwa neraka belum lagi diciptakan, karena pendapat ini adalah pendapat yang lemah apabila kita tinjau dari lafadz kalimatnya pada ayat tersebut ( أُعِدَّتْ ) merupakan fiil madhi (perbuatan yang masa lalu: Allah sudah ciptakan dari dulu).

Sayyid Qutub dalam tafsirnya Fii Zilal al-Quran, menyebutkan: “Kumpulan antara manusia dan batu dalam neraka adalah sebuah gambaran yang sangat menakutkan dan seolah-olah api neraka memamah (memakan) batu-batu, sedangkan manusia bersama batu-batu itu di dalam neraka”.